LDII MAJALENGKA
Hubungi kami di : (0233) 8286000

Kesesatan LDII

Kesesatan LDII

kesesatan ldii

Banyaknya pencarian dengan kata kunci “kesesatan ldii” di dunia maya rupanya menjadi satu topik bagi masyarakat dunia maya yang ingin menggali informasi lebih lanjut tentang kebenarannya. LDII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pertama kali berdiri pada 3 Januari 1972 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama Yayasan Lembaga Karyawan Islam (YAKARI). Pada Musyawarah Besar (Mubes) tahun 1981 namanya diganti menjadi Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI), dan pada Mubes tahun 1990, atas dasar Pidato Pengarahan Bapak Sudarmono, SH. Selaku Wakil Presiden dan Bapak Jenderal Rudini sebagai Mendagri kala itu, serta masukan sidang LEMKARI tahun 1990, Lembaga Karyawan Dakwah Islam (LEMKARI) yang sama dengan akronim LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia), diubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia, yang disingkat LDII.

Lalu berita tentang kesesatan LDII apakah benar adanya?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia di dalam Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat, sebagai berikut :

  1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
    Sebagaimana kita ketahui bahwa rukun dan rukun Islam ada 5 (lima), rukun Islam diantaranya adalah Syahadat, shalat, zakat, haji dan puasa ramadan. Rukun Iman ada 6 (enam) diantaranya, iman kepada Allah, iman kepada nabi dan rasul Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasulnya dan iman pada takdir yang baik dan buruk. Lembaga Dakwah Islam Indonesia mengkaji dan mengamalkan rukun-rukun tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

    بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

    (BUKHARI – 7) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari ‘Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan“.

    أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ

    (Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Lalu Jibril berkata: “Anda benar.” [HR Muslim (8)].

    Barangsiapa yang meninggalkan salah satu perkara saja dari rukun-rukun di atas dengan penentangan dan pengingkaran yang jelas, maka dia telah keluar dari Islam.

  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Al-Quran dan as-sunah).
    LDII adalah wadah dakwah yang merujuk pada Al Quran dan Al Hadist sebagai hukum. Sepenuhnya Al Quran dan Al Hadist adalah petunjuk bagi kaum muslim sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    … فَـإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى مُحَمَّدٍ … الحديث (رواه مسلم في كتاب الجمعة)

    “Sesungguhnya sebaik-baiknya cerita adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW.”

  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran.
    Sesungguhnya telah jelas bahwa sanya Al Quran telah diturunkan kepada umat Islam dan merupakan kitab penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya.

    اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۩ نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ ۩ مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ۩

    Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup, kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai Balasan (siksa). (Q.S Ali Imran; 2 – 4)

  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Quran.
    Kandungan dalam Al Quran adalah haq (benar) adanya. Dan Allah SWT berfirman :

    وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (سورة المائدة ٤٤)

    “Dan barang siapa yang tidak menghukumi dengan (hukum Al Qur’an) yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.”

    Firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Thaha ayat 123 dan 124,

    فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

    “Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).”

  5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
    Untuk memahami makna ayat-ayat Alquran, sangat diperlukan pengetahuan tentang kaidah-kaidah penafsiran agar tidak terjadi kesalahan dalam memberi makna terhadap sebuah tafsiran Al Quran untuk menjadi sebuah bacaan atau bahan kajian orang lain atas hasil pemaparan yang dikemukakan. Karena sebagaimana diketahui bahwa Al Quran sangat kaya akan makna yang masih memerlukan pengkajian untuk mengetahui apa dan bagaimana hakikat kandungannya. Dalam hal penafsiran Al Quran LDII bersandar kepada sunnah rasulullah, menyandarkan ilmu kepada sumber yang shohih, dan beberapa ilmu penunjang lainnya digunakan dalam penafsiran berdasarkan kaidah tafsir.
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
    Seperti dijelaskan pada poin sebelumnya bahwa LDII berpegang teguh kepada Al Quran dan Al Hadist sebagaimana sabda Rasulullah SAW

    تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

    “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

  7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
    Nabi dan Rasul adalah utusan Allah SWT yang diberikan wahyu untuk disampaikan kepada umat. Nabi dan rasul dalam ajaran islam wajib kita percayai karena terdapat pada rukun iman yang ke-4. Lembaga Dakwah Islam Indonesia tidak membenarkan umat untuk melakukan perbuatan tercela seperti menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

    “Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya. Salah seorang di antara kalian tidak beriman sehingga aku lebih ia cintai daripada bapaknya dan anaknya sendiri.”

    Dalam hadist lain dijelaskan,

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara tersebut niscaya ia akan bisa meraih lezatnya keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia siapapun juga, (2) mencintai seseorang semata-mata karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

  8. Mengingkari Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul terakhir.
    Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW pada seluruh manusia sebagaimana Firman Allah:

    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا … الآية (سورة الأعراف ١٥٨)

    Katakanlah (Wahai Muhammad),“Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua.”

    مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (سورة الأحزب ٤٠)

    “Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”

    قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا وَيَقُولُونَ لَوْلَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaanku dengan Nabi-nabi sebelumku adalah seperti orang membangun rumah, lalu disempurnakannya buatannya, kecuali sebuah sudut (belum terpasang) dengan sebuah bata. Maka masuklah orang banyak ke rumah itu. Mereka mulai kagum akan keindahannya. Lalu mereka berkata; “Seandainya batu disini sudah dipasang tentu bangunan ini menjadi lebih sempurna.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.” (HR. Muslim)

    Dan sabda Nabi Muhammad dalam hadist lain yang diriwayatkan Muslim

    أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

    “Sesungguhnya saya adalah Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah al-Mahi yang maknanya Allah menghapus kekufuran denganku, saya adalah al-Hasyir yang maknanya orang-orang akan dikumpulkan mengikuti kakiku, dan saya adalah al-’Aqib yang maknanya tiada nabi sesudahku.”

  9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
    LDII tidak mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah. Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya,

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesunggunya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S Al-Hijr:9)

    Nabi Muhammad SAW bersabda :

    مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

    “Barangsiapa yang sengaja melakukan kedustaan atas namaku, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.”

  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.
    LDII sebagai ormas Islam yang bergerak dibidang Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sesuai Firman Allah SWT dalam Surat Al-An’am : 153

    وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.(QS.6:153)

    Mengkafirkan sesama muslim tidak dibenarkan di LDII, Allah SWT melarang hambanya untuk merasa benar sendiri sebagaimana dalam Al Qur’an Surat An – Najm ayat 32

    فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

    Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.

    Selain itu, LDII sebagai pengikut As-Sunnah tidak mengajarkan pada warganya untuk memanggil atau mencela Muslimin non LDII dengan panggilan atau celaan kafir, hal ini karena Rasulullah melarang pada umatnya untuk berbuat demikian. Seperti Sabda Rassulullah yang terdapat di Sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Malik.

    كُفُّوْا عَنْ أهْلِ (لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ) لاَ تُكَفِّرُوهُمْ بِذَنْبٍ وَفِى رِوَايَةٍ وَلاَ تُخْرِجُوْهُمْ مِنَ الإِسْلاَمِ بِعَمَلٍ.

    “Tahanlah diri kalian (jangan menyerang) orang ahli ‘Laa ilaaha llallah’ (yakni orang Muslim). Janganlah kalian mengkafirkan mereka karena suatu dosa”. alam riwayat lain dikatakan : “Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu amal (perbuatan)”.

    Hadits lainnya riwayat Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar:

    اِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأِخِهِ: يَا كَافِرُ! فَقَدْ بَاءَ بِهَا أحَدُهُمَا فَاِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَاِلَى رَجَعَتْ عَلَيْـهِ.

    “Barangsiapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’ kata-kata itu akan kembali pada salah satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)”.

Pemberitaan mengenai Kesesatan LDII yang beritanya banyak beredar adalah tidak benar. Lalu apa yang dikaji dalam pengajian LDII? Simak dalam postingan lain.

Leave a Reply

Latest Posts

Alamat

Kantor DPD LDII Kab. Majalengka
Jl. Siti Armilah No. 69, Majalengka
Telepon : (0233) 281707
Website: http://www.ldiimajalengka.org
Email: info@ldiimajalengka.org

Facebook Like Box