LDII MAJALENGKA
Hubungi kami di : (0233) 8286000

Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

amalan sunnah di bulan ramadhan

Bulan Suci Ramadhan telah tiba. Bulan keberkahan, bulan pengampunan, bulan yang penuh pahala. Selain diwajibkannya puasa di bulan suci ramadhan ada berbagai amalan – amalan sunnah di bulan ramadhan, diantaranya :

  1. Mengkhatamkan Al-Quran

    Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Quran pertamakali diturunkan dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran surat Al Baqoroh ayat 185.

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ …

    (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

    Perlu diketahui bahwa pahala membaca satu huruf Al-Qur’an adalah satu kebaikan yang dibalas sepuluh kalilipatnya sebagaimana hadist berikut

    مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ الله فَلَهُ حَسَنَةٌ ‚ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ‚ لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ ‚ بَلْ أَلِفٌ حَرْفٌ ‚ وَلاَمٌ حَرْفٌ ‚ وَمِيْمٌ حَرْفٌ ٭ رواه الترمذي ‚ وقال: حديث حسن صحيح.

    “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih)

     Lalu bagaimana bila bacaan Al-Quran kita tidak lancar? Tidak ada salahnya untuk belajar dan tidak ada kata terlambat bagi kita belajar membaca Al-Quran dengan baik. Al-Quran akan datang di hari kiamat nanti sebagai pembawa syafaat bagi pembacanya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan Muslim

    اقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

    “Bacalah Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah)

     Maka niatkanlah untuk belajar dan memperbaiki bacaan Al-Quran kita agar lebih tartil. Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah r bertemu dengan jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul karim.

     Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an pada bulan ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur’an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

     Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim, Rasulullah r bersabda:

     وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُم المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُم الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ

     “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya.” (HR. Muslim).

     حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنِي أَبُو عِمْرَانَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ زِيَادٍ وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ و حَدَّثَنَاه أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مُبَارَكٍ عَنْ يُونُسَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كِلَاهُمَا عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

    Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abu Hazim Telah menceritakan kepada kami Ibrahim yaitu Ibnu Sa’ad dari Az Zuhri Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu ‘Imran Muhammad bin Ja’far bin Ziyad lafazh ini miliknya. Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah berbuat kebajikan, terutama di bulan Ramadhan. Karena setiap tahun Jibril selalu menemui beliau tiap-tiap malam, hingga habis bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperdengarkan bacaan Qur’an kepadanya (dan Jibril menyimak). Apabila Jibril mendatanginya, beliau lebih giat lagi berbuat kebajikan melebihi angin yang berhembus.” Dan telah menceritakannya kepada kami Abu Kuraib Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari Yunus Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abad bin Humaid Telah mengabarkan kepada kami Abdur Razak Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar keduanya dari Az Zuhri melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. (HR. Muslim)

  2. Shalat tarawih

    Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menganjurkan shalat tarawih disetiap malam di bulan Ramadhan sebagaimana yang diriwayatkan oleh HR. Muslim

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (HR. Muslim)

    Salat tarawih sifatnya sunnah tidak diwajibkan karena Rasulullah SAW khawatir bila mana shalat tarawih diwajibkan akan memberatkan ummat Islam pada waktu itu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist dibawah ini.

     حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Muslim, HR. Bukhari)

  3. Memperbanyak doa

    Keutamaan orang yang berpuasa salah satunya adalah doanya yang dikabul oleh Allah SWT. Dan di bulan ramadhan ini tentunya merupakan hal yang sangat dianjurkan kepada kaum muslimin. Salah satunya adalah memperbanyak doa. Tidak ada doa kaum muslimin melainkan akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’Ala, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Alquran.

    Allah berfirman:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.(QS Al Mu’min :60)

     عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

    “Dari Abi Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga orang yang do’anya tidak ditolak, do’a orang yang shaum sampai ia berbuka, do’a pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizhalimi, Allah mengangkatnya di atas mega. Dan Allah membukakan baginya pintu-pintu langit, dan berfirman, demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun sampai akhir zaman. “ (HR. Tirmidzi)

  4. Memberi buka puasa

    Bulan Ramadhan adalah saat Allah berderma kepada para hamba-Nya denga rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Terutama pada Lailatul Qadar. Allah taala melimpahkan kasih-Nya kepada para hamba-Nya yang bersifat kasih, maka barangsiapa berderma kepada para hamba Allah niscaya Allah Maha Dermawan kepadanya dengan anugerah dan kebaikan. Balasan itu adalah sejenis dengan amal perbuatan.

    إِنَّ الله جَوَّادٌ يُحِبُّ الجُوْدَ ‚ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ

    “Sesungguhnya Allah itu Maha Dermawan, cinta kepada kedermawanan dan Maha Pemurah, cinta kepada kemurahan hati.” (HR. Tirmidzi)

    الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الماَءُ النَّارَ وَقِيَامُ الرَّجُلِ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ

    “Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR. Tirmidzi)

  5. I’tikaf

    I’tikaf adalah menetapnya seorang muslim di masjid dengan tujuan beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’aala. I’tikaf dibulan ramadhan terkhusus sepuluh malam terakhir merupakan amalan yang dianjurkan, agar seorang yang menikmati ibadah dibulan ramadhan dapat lebih berkonsentrasi dalam ibadah dan bersungguh- sungguh untuk meraih keutamaan dimalam lailatul qadar.

    وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

    “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al Baqarah : 125)

     أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ‚ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan kepala Beliau kepadaku ketika sedang beri’tikaf di masjid lalu aku menyisir rambut Beliau sedangkan aku saat itu sedang haidh”. (H.R. Bukhari).

    إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

    “Sungguh saya beri’tikaf di di sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari malam kemuliaan (lailat al-qadr), kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan, kemudian Jibril mendatangiku dan memberitakan bahwa malam kemuliaan terdapat di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah dia beri’tikaf (untuk mencari malam tersebut). Maka para sahabat pun beri’tikaf bersama beliau.” (HR. Bukhari)

    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ya’fur dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (HR. Bukhari)

  6. Umrah

    Menunaikan umrah dibulan apa saja termasuk penghapus dosa bagi orang yang mengamalkannya dengan penuh keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasul. Namun menunaikannya dibulan Ramadhan, mendapatkan keutamaan khusus bagi yang mengamalkannya. Rasulullah SAW bersabda menjelaskan keutamaan Umrah dibulan ramadhan:

    فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

    “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim).

     Dalam lafazh Muslim disebutkan,

    فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

    “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim)

     Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.

     Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

    فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

    “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari).

    Maka bagi para ummat Islam yang memang mampu untuk melaksanakan umrah di bulan ramadhan tentunya sangat dianjurkan mengingat nilainya senilai dengan haji. Lalu apakah umrah di bulan ramadhan dapat menggantikan haji wajib? Umrah di bulan Ramadhan tidaklah bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadhan mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Rasulullah SAW sebagaimana hadits diatas. Bagi yang berkeinginan untuk umrah di bulan Ramadhan namun belum mampu secara materiil, mudah-mudahan Allah memberikan rezeki yang banyak yang halal lagi berkah agar tahun depat dapat melaksanakannya. Amiin.

  7. Memperbanyak kebaikan

    Memperbanyak kebaikan di bulan ramadhan merupakan suatu peluang emas bagi para ummat muslim. Bulan ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan lipatan pahala atas kebaikan yang dilakukan pada bulan ini dilipatgandakan oleh Allah SWT. amal sunah sama pahalanya dengan amal wajib di bulan lain dan amal yang wajib pahalanya berlipat menjadi tujuh puluh kali. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat baik untuk berdoa, karena Allah akan mendengar setiap permohonan kita.

     مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ (رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صحيح)

    “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)

    Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Termasuk nikmat dari Allah subhanahu wata’ala atas hamba-hamba-Nya, Allah mensyariatkan tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan. Dan termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan ini adalah memberi makanan berbuka bagi orang yang sedang berpuasa, karena orang yang berpuasa diperintahkan untuk berbuka dan menyegerakan buka puasanya.

Untuk meraih keutamaan bulan yang begitu agung dan mulia ini, perintah puasa di bulan Ramadhan hendaklah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan memperbanyak berinteraksi dengan Alquran. Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat dan pembelaan bagi kita kelak di hari kiamat, di samping keduanya dapat menyucikan jiwa dari sifat-sifat tercela sehingga tercapailah tujuan puasa untuk menjadi insan yang bertakwa. Semoga artikel Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan ini dapat menjadi motivasi bagi kita untuk mensukseskan ibadah di bulan ramadhan.

 

Leave a Reply

Latest Posts

Alamat

Kantor DPD LDII Kab. Majalengka
Jl. Siti Armilah No. 69, Majalengka
Telepon : (0233) 281707
Website: http://www.ldiimajalengka.org
Email: info@ldiimajalengka.org

Facebook Like Box